menu melayang

Sunday, 18 October 2015    

RUANG LINGKUP SEJARAH - Sejarah sebagai Peristiwa

Advertisement

RUANG LINGKUP SEJARAH - Sejarah sebagai Peristiwa

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau tentunya ada
yang penting untuk dibahas, ada pula yang tidak. Sebuah peristiwa
disebut penting bila kemudian peristiwa itu cukup berpengaruh
terhadap masa selanjutnya. Bisa saja peristiwa penting tersebut
pada waktu kejadiannya tidaklah begitu penting, namun setelah
peristiwa tersebut berlalu barulah dirasakan pengaruhnya
terhadap kehidupan di masa berikutnya.
Berkenaan dengan konsep sejarah sebagai peristiwa maka
kita kita akan membicarakan tentang kejadian, kenyataan,
aktualitas yang telah terjadi atau berlangsung pada masa yang
lampau. Lalu kita bertanya ”Apakah yang kita namakan peristiwa
atau kejadian?”. Tentunya secara mudah kita menjawab bahwa
kejadian adalah hal sudah terjadi. Bersambung dengan pertanyaan
“Apakah yang terjadi?“. Pertanyaan ini membuat kita berpikir
bahwa banyak sekali jawaban yang bisa kita berikan berkaitan
dengan kehidupan manusia yang terjadi pada masa lampau. Apa
saja yang terjadi dan terbentuk pada masa yang lampau adalah
kejadian, terutama yang berhubungan dengan kehidupan
manusia.
RUANG LINGKUP SEJARAH - Sejarah sebagai Peristiwa


Peristiwa penting itulah yang merupakan pokok pembicaraan
dalam sejarah. Sejarah di sini mengandung sebuah peristiwa
penting. Berkenaan dengan konsep sejarah sebagai peristiwa,
maka kita senantiasa membicarakan tentang kejadian, kenyataan,
aktualitas yang telah terjadi atau berlangsung pada masa silam.
Apakah itu peristiwa? Peristiwa adalah sebuah gerak yang terjadi
pada suatu masa dan mengakibatkan peristiwa lainnya. Peristiwa
dalam cakupan sejarah berarti segala sesuatu yang telah
berlangsung pada waktu yang telah lalu dan menimbulkan akibat
pada kehidupan manusia pada waktu itu dan pada masa
setelahnya. Para sejarawan tak hanya mencatat rangkaian
peristiwa yang terjadi, namun juga mencoba menelusuri latar
belakang atau sebab-musabab peristiwa muncul.
Bila kita membaca buku yang berjudul, misalnya, Peristiwa
Penting Seputar Drama Rengasdengklok maka kita membaca runtutan
atau adegan tokoh-tokoh pemuda yang terlibat dalam
pertemuannya dengan Soekarno dan Hatta sebagai sebuah sejarah.

 Sejarah sebagai Kisah

Membicarakan sejarah sebagai kisah berarti berbicara sejarah
sebagai sebuah cerita dalam berbagai bentuk, baik narasi maupun
tafsiran dari suatu peristiwa sejarah. Kisah ini pun dapat berupa
tulis atau lisan. Secara tulisan, kisah sejarah ini dapat dilihat dalam
bentuk tertulis seperti pada buku, majalah atau surat kabar. Secara
lisan, kisah dapat diambil dari ceramah, percakapan atau pelajaran
di sekolah. Sejarah merupakan suatu kisah yang diceritakan dalam
berbagai bentuk, baik narasi maupun tafsiran dari suatu kejadian.
Secara tulisan kisah ini akan didapat dalam bentuk tulisan di
buku, majalah atau surat kabar. Secara lisan, kisah didapat dari
ceramah, percakapan atau pelajaran di sekolah.
Oleh karena sejarah di sini bersifat kisah atau cerita maka
isi kisahnya pun berbeda bergantung kepada siapa yang
menyampaikannya, kepentingan, serta latar belakang si
penyampai kisah bersangkutan. Kisah yang dituturkan berbeda
karena setiap orang akan memberikan tafsiran yang berbeda
tentang peristiwa yang dilihatnya. Dengan demikian, akan cukup
bijaksana apabila sejarah dikisahkan itu disertai pula oleh uraian
mengenai sifat-sifat orang yang menyampaikan sejarah.
Contoh sejarah sebagai kisah adalah kisah mengenai Sultan
Iskandar Muda dalam Hikayat Aceh. Dalam hikayat ini
diceritakan cukup detail mengenai masa kecil Iskandar Muda
hingga ia memerintah Kerajaan Aceh dengan cukup bijaksana.
Di sini kita melihat sosok positif dari sultan tersebut karena yang
menulis hikayat pun adalah orang dalam Aceh. Dengan demikian
sejarah sebagai kisah subjektif sifatnya. Contoh lain adalah kitabkitab yang ditulis oleh para pujangga istana di Jawa seperti
Negarakretagama, Pararaton, Kidung Sundayana, Carita
Parahyangan, dan lain-lain.

Sejarah sebagai Ilmu

Sejarah sebagai ilmu baru lahir pada awal abad ke-20. Pada waktu
itu tengah terjadi perdebatan ilmiah di antara ilmuwan tentang
sejarah. Perdebatan ini terjadi di Jerman pertama kali, melibatkan
para ahli filsafat dan sejarawan. Yang diperdebatkan adalah apakah
sejarah dapat digolongkan sebagai cabang ilmu pengetahuan atau
merupakan sebuah seni.
Ilmu sejarah sendiri sudah mulai berkembang pada abad ke-
19, seiring dengan perkembangan ilmu dan sains yang lainnya.
Pengetahuan sejarah ini mencakup kondisi atau situasi manusia
pada suatu masa yang hidup dalam jenjang sosial tertentu. Ilmu
sejarah berusaha mencari hukum-hukum yang mengendalikan
manusia dan kehidupannya dan juga mencari penyebab timbulnya
perubahan-perubahan dalam kehidupan manusia.
Sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan hendaknya dibahas
dan dibuktikan secara keilmuan (ilmiah). Untuk membuktikan
keilmiahannya, dalam menganalisis sejarah seyogyanya digunakan
berbagai standar dan metode-metode ilmiah. Dengan demikian,
kesahihan penelitian sejarah dapat dipertanggung-jawabkan secara
moral dan keilmuwan. Oleh karena itu, ketika akan mempelajari
sebuah objek sejarah maka harus dibuat metode ilmiah secara
sistematis dengan tujuan memperoleh kebenaran sejarah.
Sejarah sebagai ilmu adalah suatu susunan pengetahuan (a
body of Knowledge) tentang peristiwa dan cerita yang terjadi di
masyarakat manusia pada masa lampau yang disusun secara sistematis dan metodis berdasarkan asas-asas, prosedur dan
metode serta teknik ilmiah yang diakui oleh para pakar sejarah.
Sejarah sebagai ilmu mempelajari sejarah sebagai aktualitas dan
mengadakan penelitian serta pengkajian tentang peristiwa dan
cerita sejarah. Sejarah sebagai ilmu juga menjelaskan pengetahuan
tentang masa lalu yang berusaha menentukan dan mewariskan
pengetahuan mengenai masa lalu suatu masyarakat tertentu. Ada
beberapa ciri ketika sejarah dikategorikan sebagai ilmu:
(a) Empiris
Sejarah sangat berkaitan dengan pengalaman manusia.
Pengalaman tersebut direkam dalam dokumen dari
peninggalan-peninggalan sejarah lainnya. Sumber-sumber
tersebut kemudian diteliti oleh para sejarawan untuk bisa
dijadikan fakta. Fakta-fakta itulah yang kemudian
diinterpretasikan dan dilakukan penulisan sejarah.
(b) Memiliki Objek
Setiap ilmu pengetahuan tentunya harus memiliki tujuan
dan objek materi atau sasaran yang jelas dan memiliki
perbedaan dengan dengan ilmu yang lain. Sebagai mana
umumnya ilmu-ilmu lain, yang menjadi objek dalam kajian
sejarah adalah manusia dan masyarakat pada kurun waktu
tertentu.
(c) Memiliki Teori
Ilmu pengetahuan sosial pada umumnya memiliki teori-teori
tertentu. Sejarah mempunyai teori yang berisi yang berisi
kaidah-kaidah pokok suatu ilmu. Seperti misalnya teori yang
dikemukakan oleh Arnold Toynbee mengenai teori Challenge
and Response.
(d) Memiliki Metode
Dalam rangka penelitian, sejarah mempunyai metode
tersendiri dengan melakukan pengamatan yang sistematis.
Ini untuk menghindari suatu pernyataan tidak didukung
oleh bukti-bukti yang kuat maka pernyataan tersebut itu bisa
ditolak. Dengan menggunanan metode sejarah yang tepat
seorang sejarawan bisa meminimalisir kesalahan dan dapat
membuat kesimpulan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sejarah sebagai Seni

Sejarah pun dapat berperan sebagai seni yang mengedepankan
nilai estetika. Jadi, sejarah dalam hal ini bukanlah dipandang dari
segi etika atau logika. Menurut pemikiran Dithley, seorang
sejarawan dan filsuf modern, sejarah adalah pengetahuan tentang
cita rasa. Sejarah tidak saja mempelajari segala yang bergerak dan
berubah yang tampak dipermukaan, namun juga mempelajari
motivasi yang mendorong terjadinya perubahan itu bagi si pelaku
sejarah. Ia mempelajari suatu proses dinamis kehidupan manusia yang di dalamnya terlihat adanya hubungan sebab-akibat yang
lumayan rumit. Dithley meragukan teori yang diungkapkan
Comte, Mills, dan Spencer yang menyatakan bahwa metode ilmu
alam dapat dipergunakan dalam mempelajari sejarah tanpa
modifikasi berkelanjutan.
Memang benar bahwa sejarah dapat digali melalui metode
ilmiah. Akan tetapi, sejarah itu sendiri memiliki jiwa atau roh,
yang tak lain adalah jiwa yang terdapat dalam diri manusia sebagai
pelaku sejarah. Jiwalah yang merupakan nyala api manusia dalam
kehidupannya. Pendekatan terhadap jiwa sejarah ini hanya dapat
dilakukan oleh seni. Jika suatu peristiwa sejarah tak dapat lagi
dibuktikan melalui metode ilmiah maka seorang sejarawan
diharapkan mampu mengungkap apa yang tersirat dalam
peristiwa itu melalui daya imajinasi. Imajinasi ini sangat
diperlukan dalam menginterpretasikan sejarah ketika data-data,
jejak-jejak, dan informasi sejarah dirasa belum cukup dalam
menafsirkan peristiwa sejarah.
Melalui pendekatan seni, fakta sejarah akan menjadi lebih
hidup dan bernyawa. Kita pun akan lebih menghayati kejadian
sejarah, dapat lebih menghargai tokoh atau manusia yang terjun
langsung dalam tragedi dan peristiwa sejarah. Kita bisa lebih
menghayati momentum sejarah, misalnya, dengan membaca
sastra-sejarah (biasanya dalam bentuk novel, roman).
Misalnya dengan membaca novel Arus Balik karya sastrawan
Pramoedya Ananta Toer, yang menceritakan perubahan politik
yang terjadi di Nusantara pada masa Kerajaan Demak mendominasi
Kepulauan Nusantara, ketika bangsa Portugis (Peringgi) telah menguasai Selat Malaka. Meskipun tokoh utama dalam novel ini
(Wiranggaleng dan Idayu) bersifat fiktif, namun sebagian tokoh
lainnya adalah pelaku sejarah yang nyata. Dengan membaca novelsejarah, kita juga akan membaca sejarah sebagai kisah dan peristiwa,
di samping sebagai seni tentunya. Sejarah sebagai seni dapat
menuntun kita kepada realitas bahwa pelaku sejarah adalah
manusia juga seperti kita yang memiliki rasa cinta, persahabatan,
tanggung jawab sebagai individu dan selaku warga negara.
Melaluinya kita dapat melihat pula kelemahan, rasa takut, sedih,
dan kecewa dari mereka para pelaku sejarah. Dengan demikian,
sejarah akan menjadi sajian yang kering bila tanpa seni, untuk itu
sejarawan memerlukan unsur-unsur seni berupa: intuisi (ilham),
yaitu pemahaman langsung dan insting selama masa penelitian
berlangsung. Imajinasi yang mempunyai arti bahwa sejarawan harus
dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sedang
terjadi dan apa yang terjadi sesudah itu. Emosi dengan perasaan
sejarawan diharapkan dapat mempunyai empati untuk menyatukan
perasaan dengan objeknya. Sejarawan diharapkan bisa
menghadirkan peristiwa sejarah seolah-olah mengalami peristiwa
sejarah tersebut, sebagai contoh ketika perasaan ini diungkapkan
ketika sejarawan menuliskan sejarah tentang revolusi semasa perang
kemerdekaan dapat mewariskan nilai-nilai perjuangan bangsa.
Gaya Bahasa, dengan gaya bahasa yang baik dalam arti tidak
sistematis dan berbelit-belit akan sangat dimengerti, gaya bahasa
juga digunakan terkait dengan penggunaan bahasa pada zaman
tertentu seperti di zaman Orde Lama yang akrab dengan kata-kata
progresif revolusioner, ganyang, marhaenisme, nasakomisasi.

Advertisement

KONSULTASI VIA WA

Hubungi Saya Via WhatsApp

BLOG POST

RELATED POST

Back to Top

Cari Artikel

Advertisement

PRODUK DIGITAL


PAKET NELPON TELKOMSEL PAKET SMS TELKOMSEL
TOOLS OTOMATIS SELLER SHOPEE TOOLS OTOMATIS KONTEN AFFILIATE SHOPEE tools otomatis facebook
DAFTAR AGEN PULSA KOLEKSI PRODUK ARMAILA

TERPOPULER

ARM

Advertisement

FACEBOOK

AGEN PULSA

RANDOM POST

Iklan

Close x